Heaven is Not Final Destination

Hi… udah lama pake banget nggak nulis di sini. Postingan terakhir di tanggal 25 Februari 2021 dan sekarang udah 21 Agustus 2021. Artinya sudah ada 6 bulan terlewati dan 177 hari ku lalui tanpa berbagi cerita di sini. Padahal pasti banyak banget pengalaman dan hikmah berharga yang seharusnya layak untuk diangkat menjadi cerita yang bisa dibagi. Ya mau gimana lagi, terkadang memaksakan diri untuk menulis di saat nggak kepengen tuh malah jadinya tulisannya nggak ada ruh, jadi nggak gue banget gitu wkwkwk. Tapi sekalinya nurutin mood, malah kebablasan nggak nulis sampe selama ini. Mumpung lagi adaan nih mood nya, yuk mari nulis sesuatu yang agak serius sedikit.

                Hari ini sebenarnya bertepatan dengan hari ke-30, hari dimana aku mulai untuk jalan kaki pagi yang tujuan utamanya sebenarnya untuk menghindarkanku dari tidur lagi abis sholat subuh. Aku mulai jalan kaki itu tanggal 21 juli 2021 dan sekarang 21 agustus 2021 (lebih dari 30 hari si sebenarnya). Selama rentang tanggal itu sebenarnya ada beberapa hari dimana aku nggak jalan kaki karena beberapa alasan. Pertama, tiap aku pulang ke rumah pas weekend, aku bakalan jadi pegawai ibuku untuk bikin rengginang dan kedua karena siklus bulanan yang membuatku banyak rebahan saja karena sakit. Aku nggak nyangka sih bisa sekonsisten ini soalnya godaan kasur abis sholat subuh tuh biasanya tak bisa ku abaikan, pasti bakalan tergoda. Tapi ternyata aku bisa. Kuncinya adalah LAKUKAN. Nggak usah banyak mikir, lakuin aja. Oya, tipsnya lagi biar nggak ngantuk abis sholat subuh, pas ambil wudhu langsung sikat gigi. Kan jadi semriwing tuh mulut, biasanya jadi menyebar ke mata yang bikin kita nggak ngantuk lagi. Cara ini efektif banget buatku.

                Berhubung jalan kakinya sendirian, ku putuskan untuk mendengarkan podcast biar nggak garing gitu jalannya. Dengerin podcast bikin kita kayak ada temen jalan padahal jomblo wkwkwk. Platform yang ku pilih adalah spotify. Bejibun kan tuh pilihan podcastnya, ku cari-cari akhirnya dapet tuh yang paling familiar dan sepertinya bahasannya bakalan insightful nih. Siapa lagi kalau bukan PORD (podcast Raditya Dika). Aku banyak mendapat insight dari bahasan bang Radit (sok akrab banget ye) di setiap podcastnya. Bahasannya mayoritas mengenai finance dan perencanaan keuangan yang bikin aku melek tentang financial walapun dari sekian banyak saran yang beliau sampaikan, belum ada satu pun yang ku jalankan. Soalnya belum stabil aja nih pendapatan wkwkwk. Ada kali ya semingguan lebih dengerin PORD, walaupun insightful tapi bosen juga perlu variasi. Akhirnya hari berikutnya ku putuskan buat dengerin lagu aja. Oya, satu hal lagi yang aku kagumi dari bang Radit adalah dia itu sangat sangat produktif orangnya dan visioner. Makanya nggak heran setiap karyanya bisa diterima khalayak ramai. Dia juga jago banget story telling, dia bener-bener punya magis yang bisa bikin orang lain mau dan suka dengerin dia cerita dalam waktu yang lama. Nggak kerasa aja gitu ternyata aku udah dengerin dia ngomong mulai dari berangkat jalan sampe pulang lagi. Yang itu sekitar 1 – 2 jam-an. Mantep banget. Padahal gue pas presentasi, buat ngebikin orang dengerin aku lima menit aja kayaknya susah banget wkwkwk. Aku baru sadar sih pentingnya kemampuan story telling buat masa depan, entah itu pendidikan, pekerjaan, maupun percintaan. Karena emang semuanya butuh untuk dikomunikasikan dan story telling adalah kuncinya.

                Bahasanku kali ini bukan tentang bang Radit sih karena nggak akan ada habisnya kalau ngomongin kehebatan beliau. Nah, disela-sela keinginanku untuk mencari variasi podcast yang mau ku dengerin. Entah hidayah darimana, akhirnya ku putuskan untuk mencari bahasan mengenai agama. Tapi kepengen yang bahasannya agak beda gitu, bukan yang biasanya ku dengerin. Akhirnya berlabuhlah pada sebuah podcast yang judulnya ‘kajian islami, ngaji filsafat’, mantep kan judulnya. Pembicaranya adalah Dr. Fahrudin Faiz, S.Ag M.Ag. Pas dengerin aku langsung suka banget dan hampir semua episode udah diputer. Bahasan pertama yang ku putar dan sukses bikin aku jatuh hati adalah yang judulnya ‘ciri cinta sejati itu ikhlas’. Ini nih linknya, biar kalian bisa dengerin juga,

https://open.spotify.com/episode/1YTQLA7LBECciAP10ObErg?si=wegQ-FPvSBuoNM4tcK1u6Q

                Isi dari podcast inilah yang mengilhamiku untuk menulis judul tulisan ini, heaven is not final destination. Ustadz Fachrudin memberikan analogi yang sangat bisa diterima oleh orang awam sekalipun terkait keberadaan surga dan neraka yang Allah ciptakan. Surga tak lebih hanyalah sekedar ‘iming-iming’ belaka untuk membimbing umat manusia menuju tujuan yang lebih besar namun abstrak, tak bisa manusia bayangkan karena keterbatasan yang dimiliki. Tujuan utama kita hidup adalah mendapatkan ridho dari Allah SWT, ketika ridho telah didapat maka surga adalah kepastian yang akan diperoleh. Yup benar, final destination nya adalah ridho Allah. Analogi yang beliau berikan adalah sebagaimana cinta seorang ibu kepada anaknya yang tidak pernah mengharapkan imbalan. Seorang ibu akan mengiming-imingi anaknya sebuah sepatu baru dengan syarat anaknya harus belajar dengan rajin. Sang anak tentunya akan termotivasi untuk rajin belajar untuk mendapatkan sepatu, padahal sebenarnya tujuan akhirnya bukan sepatu melainkan sang anak akan menjadi pintar dan mudah baginya mengarungi hidup ke depannya. Tentunya menjadi pintar tak bisa membuat seorang anak termotivasi untuk belajar, karena menjadi pintar adalah hal yang abstrak. Motivasi akan lebih mudah diperoleh ketika rewardnya adalah hal yang konkret. Iming-iming sepatu adalah bentuk konkret agar si anak termotivasi padahal tujuan si ibu lebih dari itu. Itulah bentuk cinta yang ikhlas dari seorang ibu kepada anaknya. Ketika menjadi pintar telah didapatkan oleh si anak, maka tak hanya sepatu yang dia dapatkan bahkan lebih dari itu, yaitu masa depan yang cerah.

Begitu pula Allah kepada umatnya, maka tak salah ketika ku tuliskan bahwa heaven is not final destination. Adanya surga dan neraka adalah bentuk kasih sayang dan cinta Allah pada umatnya. Surga adalah iming-iming agar kita termotivasi untuk senantiasa melakukan perintah-Nya yang nantinya akan semakin mendekatkan kita pada ridho-Nya, sedangkan neraka adalah bentuk iming-iming agar kita tetap berada di dalam koridor dan tidak melanggar larangannya untuk menuju ridho-Nya. Tak apa sekarang motivasinya surga karena memang bukan perkara mudah untuk semata-mata tujuannya karena mengharap ridho-Nya. Semuanya butuh proses dan insyaAllah lambat laun kita akan menuju ke sana. Aamiin.

30 Fakta tentang Diri Sendiri

Tema hari kedelapanbelas mengenai Thirty Facts about Myself. Wah… udah kayak idol-idol aja ya nulisin 30 fakta yang perlu diketahui. Soalnya aku sering baca artikel tentang 30 hal yang perlu kamu ketahui tentang seorang idol. Salut banget sih sama penulisnya karena bisa tahu detail tentang orang lain. Eh tapi emang lebih mudah nggak sih nulis tentang orang lain dibandingkan nulis tentang diri sendiri. Ini aja aku ngerasa gimana gitu nulis ginian karena ngerasa siapa aku gitu nulis ginian wkwkwk. Ya udah lah ya, namanya juga mandate 30 days writing challenge, jadinya aku tulis aja. Yok mulai,

1: aku anak bungsu yang mempunyai saudara kembar. Pengukuhanku sebagai anak bungsu atas dasar saran dari dokter yang memberikan gelang pada kami berdua.

2: suku Madura asli karena bapak ibuku juga orang Madura asli yang usut punya usut berasal dari turunan yang sama pada 3 generasi di atas mereka. Orang Madura cenderung menjodohkan anaknya dengan orang yang secara geografis berdekatan. Aku merasa amaze aja sama temen-temen kuliah dulu yang kalau kenalan sebagian besar bilang, ibuku berasal dari daerah X sedangkan bapakku Y, sedangkan aku darah murni hehe.

3: badminton both lover and player. Kesukaanku pada badminton dimulai sejak nonton pertandingan badminton di TV. Aku dulu sering nonton badminton di TV. Awalnya sok sokan ngerti komen yang dilontarkan pamanku, lantas benar-benar mengerti peraturannya setelah sedikit demi sedikit dijelasin. Mulai aktif main badminton sejak kerja di Bekasi tiap minggu, berlanjut hingga kuliah di Bandung.

4: food hunter. Suka banget makan tapi nggak mau gemuk wkwkwk. Aku suka coba-coba makanan baru baik secara langsung maupun lewat aplikasi gofood atau grabfood. Tak jarang zonk di beberapa uji coba tapi menurutku nggak papa karena itu juga bagian dari pembelajaran. Aku selalu beralasan, seenggaknya pengalaman zonk beli makanan ini bisa aku bagikan ke orang-orang di sekitarku agar tak mengalami ke­-zonk-ngan yang sama wkwwk.

5: suka nulis. Bisa dibilang iya sih karena menurutku menulis itu jadi media untukku bercerita karena aku cenderung pendengar yang baik. Setiap terlibat dalam sebuah hubungan persahabatan, aku selalu mengambil peran sebegai pendengar dan jarang sebagai pemberi cerita. Menjadi pendengar membuatku kaya akan pengalaman tapa perlu mengalami. Nah sebagai gantinya, aku pilih media tulisan untuk menuliskan apa yang aku pikirkan dan yang ingin aku ceritakan.

6: Drama korea Lover. Aku suka banget drama apalagi drama korea karena dari sana aku banyak belajar kisah romantis yang jalan ceritanya mainstream tapi dieksekusi dengan sangat apik dan antimainstream. Aku berkali kali bercerita kalau aku sebegitu kagumnya dengan keprofesionalan orang korea, generally ras oriental (termasuk tiongkok, jepang, hongkond, dll). Mereka itu sangat konsisten dan persisten dalam mengerjakan sesuatu, beda sama aku yang gampang bosan dan kurang sungguh-sungguh.

7: suka baca tapi gampang ngantuk kalau lagi buku. Kalian gini juga nggak sih? Aku gampang banget ngantuk dan parahnya lagi kalau lagi sudah tidur, aku ambil aja buku buat dibaca. Jauh lebih mujarab dari obat tidur kayaknya, baru baca selembar langsung terbang ke alam mimpi.

8: nggak suka coklat. Aku lebih memilih keju dibandingkan coklat karena rasanya lebih asin (ya iyalah). Sebenernya aku kurang suka makanan yang rasanya manis karena makanan daerahku rasanya cenderung asin pedes.

9: suka pelajaran kimia dibandingkan biologi. Latar pendidikanku sekarang mungkin akan membuat banyak orang mengira aku suka pelajaran biologi tapi percayalah aku lebih suka kimia. Makanya nilai akademikku nggak bagus-bagusa amat, tapi ya nggak jelek si, sebatas aman buat ngapa-ngapain.

10: suka becanda. Aku bukan tipe orang yang serius tapi mau kok diseriusin wkwkwk. Aku menyukai lingkungan yang penuh dengan becandaan-becandaan receh dibandingkan lingkungan yang kaku dan strick karena itu bakalan bikin aku pegel dan capek banget wkwkwk.

11: nggak suka game. Salah satu aplikasi yang umumnya diinstall di sebagian banyak orang tapi tak terinstall di HPku adalah game. Entah kenapa aku nggak suka main game karena akunya cepet bosen. Ohya, aku nggak suka main game karena aku nggak suka dimainin, sukanya diseriusin #apasih wkwkwkwk.

12: suka berteman. Aku suka banget menjalin hubungan pertemanan karena menurutku berteman itu membuat hidup jadi lebih berwarna. Teman membuat masa-masa jombloku nggak ngenes ngenes amat wkwkkwk.

13: suka ikut challenge tapi ga bisa nyelesain wkwkwk. Salah satunya challenge ini nih, kalau seandainya ini bisa sampai tulisan ke-30, artinya ini adalah challenge pertama yang bisa aku selesaikan hingga tahap akhir.

14: belum pernah pacaran. Harus banget ya aku tulis ini wkwkwk. Hal ini dikarenakan pacaran itu hanya untuk orang yang butuh sedangkan aku merasa tidak butuh. Aku merasa sudah baik-baik saja dengan diriku dan orang-orang di sekitarku. Selain alas an agama yang udah jelas ya.

15: pemalas di mata keluarga. Aku dianggap pemalas di keluargaku karena memang iya sih kalau lagi di rumah aku jadi berubah menjadi seorang yang malas gerak dan bersih-bersih. Padahal kalau di luar rumah aku anaknya rajin. Aku juga bingung yang mana jati diriku yang sebenarnya, yang pemalas atau yang rajin wkwkwk.

16: jago masak. Ini self-claim sih karena beberapa kali masak, masakanku nggak enak blas. Aku terlalu pede dengan satu hal yang aku percaya bahwa setiap orang pasti bisa masak asal mau belajar dan nggak males. Aku yakin masa itu akan datang dimana aku akan rajin dan nggak males wkwkwk.

17: jago ngupas batok kelapa. Ini adalah keahlianku yang membuatku bangga bukan main wkwkwk. Kalian pernah nggak sih ngupas batok kelapa yang keras itu tanpa membuat kelapanya pecah? Nggak bisa kan? Aku yakin orang yang bisa ngupas batok kelapa tanpa membuat kelapa pecah hanya 1 dari 5 orang perempuan yang bisa melakukannya dan hebatnya aku salah satu di antara satu orang itu wkwkwk.

18: suka pake tas ransel. Aku sukaaaa banget pake tas ransel soalnya lebih seimbang di bahu, muat banyak barang, dan nggak rempong. Aku kan suka bawa barang banyak jadinya tas ransel adalah jawabannya. Aku suka heran dan kagum aja sama orang yang kalau keluar bawaannya cuma dikit dan tasnya kecil, tas selempang yang cantik dan cute gitu. Soalnya aku nggak bisa karena kurang gede dan nggak muat barang banyak.

19: Sekalinya nyaman sama satu barang susah berpaling. Nah aku tuh tipe yang konsisten alias setia sama satu barang. Ini konteksnya di barang yang aku pakai ya. Entah ini karena aku masih sobat miss queen kali ya, jadinya punya barang tuh cenderung terbatas karena pusing banget kalau punya banyak. Kagum banget sama orang yang bisa mix and match ootd gitu soalnya aku cenderung itu-itu aja pakaiannya. Aku belum merasa memadu madankan outfit itu adalah hal yang perlu wkwkw.

20: tidak pelit. Aku sangat terganggu dengan orang yang sangat perhitungan masalah duit, nah ini berdampak padaku yang juga tak ingin membuat orang lain terganggu. Makanya aku nggak mau jadi orang yang sangat perhitungan terhadap uang alias pelit. Nggak pelit bukan berarti hambur ya. Jadi, kalau menyangkut uang aku nggak banyak mikir gitu lho karena pusing dan ujung-ujungnya abis juga duitnya ya ngapain juga dihitung dan dipikirn lama-lama. Oya, aku sangat strick masalah akad di awal tentang uang ini, kalau akadnya pinjem ya harus dibalikin, kalau akadnya ngasih ya nggak usah diungkit-ungkit.

21: nggak bisa menjalin hubungan jarak jauh. Salah satu cara menjaga sebuah hubungan adalah komunikasi dan menurutku komunikasi dengan kehadiran fisik jauh lebih efektif dibandingkan virtual.

22: nggak suka pake celana karena bikin gemuk wkwk. Selain itu, menurutku pakai celana itu membatasi ruang gerakku (bagiku ini ya).

23: nggak punya akun instagram (ig) pribadi. Entah mengapa merasa lebih tenang ketika menghapus akun ig pribadi karena ig memberikan terlalu banyak informasi pribadi orang lain yang terkadang sangat mempengaruhi moodku. Kadang memberikan semangat dan tak jarang menghilangkan semangat. Perubahan mood yang sangat fluktuatif ini membuatku memutuskan untuk menghapus akun ig dan sepertinya ini adalah kaputusan yang sangat tepat.

24: sering telat. Nah ini nih, aku masih belum bisa on time dalam berbagai keadaan. Aku terlalu santai melihat jam dan selalu merasa masih banyak waktu tersisa. Akan tersadar ketika sudah mepet dan itu nyiksa bangat karena harus grasa grusu, pontang panting ngejar waktu biar nggak telat.

25: kadar maskulinitas tinggi. Ini pendapat orang-orang di sekitarku sih, katanya kadar maskulinitas dalam diriku relative tinggi dibandingkan perempuan pada umumnya. Hal ini tercermin dari perilakuku yang cenderung cuek, nggak detail, nggak mau ribet, dan selow. Entah itu benar atau nggak sampe perlu banget aku tulis di sini wkwkwk.

26: selalu penasaran bagaimana orang keren bisa keren. Jujur aku selalu penasaran, perjalanan hidup seperti apa yang orang-orang keren itu lewati hingga menjadi orang sukses dan berkarakter. Aku berkaca pada diri kayaknya masih gini-gini aja dari dulu, belum ada perubahan keren yang signifikan wkwkwk.

27: baru menyadari kalau bioteknologi sekeren itu. Dulu milih biotek karena nggak mau lagi belajar ilmu dasar sejenis biokimia tetapi pas dijalani kok ya makin detail. Belum tergambar career path seperti apa yang bisa dijalani di bidang ini tetapi ternyata sangat luas saudara-saudara. Dulu dulu belum terbayang karena memang di Indonesia belum terlihat jelas dan belum menjanjikan karir dengan background biotek. Tetapi setelah adanya pandemi COVID-19 ini, bahasan tentang basic science menjadi hal yang sangat lumrah dimana mana dan membuat pengetahuan di bidang biotek menjadi hal yang sangat membantu. Merasa seneng aja menjadi bagian dari bidang yang perkembangannya sangat pesat dan nyata sekarang dan di masa yang akan datang.

28: merasa telat dalam dunia karir. Aku ngerasanya gitu sih soalnya teman-teman seangkatanku tuh udah pada kemana dalam karir professional mereka sedangkan aku masih gini-gini aja. Bukan berarti aku merasa inferior, nggak, nggak sama sekali. Hanya merasa, ‘oh aku kayaknya telat ya meniti karir wkwkwk’. Tapi aku sadar kok, karir itu bukan masalah perlombaan siapa yang dulu-duluan mencapai puncak karir tetapi siapa yang bisa mengambil pelajaran dan menjadi lebhih di setiap tahapan kehidupan yang dijalani.

29: open minded. Aku merasa cukup open minded untuk hal-hal yang menurut orang lain masih tabu. Aku dulu juga termasuk orang yang kaku sih, merasa terganggu dengan opini orang yangt tak sejalan dengan opini yang selama ini aku yakini. Sekarang aku mulai memperkaya sudut pandangku, sehingga nggak kaku-kaku amat ketika nyemplung di circle yang heterogen. Caranya? Aku banyak nonton youtube atau dengerin podcast orang-orang dari golongan kanan, kiri, depan, belakang, atas, dan bawah. Biar sudut sudut pandangnya jadi kaya dan nggak kayak katak dalam tempurung. Memperkaya perspektif ini juga menghindarkanku dari perbuatan gampang nge-judge seseorang atau suatu kejadian.

30: the last but not least, aku sangat mencintai diri sendiri (I love my self so much). Ini penting banget lho untuk mengarungi hidup yang tak mudah ini dengan berbagai halangan, rintangan, membentang, yang jadi halangan dan jadi beban pikiran. Love myself yang membuatku tetap waras di tengah banyak beban mental dan moral yang membelenggu #asyiaaap.

                Itu aja kali ya, ini jujur panjang banget lho. Bekali-kali bengong buat nyari apa lagi yak wkwkwk. Ini detail banget sih, udah kayak mau taarufan hahaha. Nulis ini bikin lega sih dan malah bikin jadi lebih mengenal diri sendiri soalnya kan kita jadi mencari-cari dan menggali-gali tuh kayak apa kita sebenarnya. Berarti beneran efektif ya terapi menggunakan tulisan tu, aku udah buktiin, sekarang giliran kamu. Kamu… kamu… iya KAMU.

Klik

Melanjutkan tema hari ketujuhbelas mengenai topik yang rasanya sangat privasi tapi karena udah kadung janji, baiklah akan ku tulis malam ini mengenai ways to win my heart. Layaknya banyak jalan menuju roma, begitu pula banyak jalan untuk win my heart. Di antara sekian banyak jalan tersebut hanya satu kata yang bisa mewakilinya yaitu klik. Klik merupakan kosa kata yang pas untuk mewakili sekian banyak kriteria yang berseliweran di kepalaku mengenai seseorang yang bisa win my heart. Percaya deh semua kriteria yang kita udah susun rapih nih bakalan langsung buyar ambyar kalau kita udah ketemu sama orang yang klik.

Sebenernya aku belum mumpuni untuk menjabarkan makna dari klik ini karena hingga saat ini aku pun belum ketemu sama orang yang klik. Beropini boleh lah ya, blog aku ini wkwkwk. Rasa klik dirasakan ketika kita bisa dengan bebas menceritakan siapa diri kita dengan nyaman kepada seseorang tanpa perlu lagi memakai topeng agar membuat orang tersebut terkesan. Bukan hal yang mudah menceritakan siapa diri kita. Jangankan kepada orang lain, kepada diri sendiri pun kita masih sering tak jujur dan sangat nyaman memakai topeng hanya untuk menyembunyikan siapa diri kita yang sebenarnya. Oleh karena itu, bukanlah hal yang mudah menemukan seseorang yang klik, karena menemukannya sama saja dengan menemukan separuh aku yang hilang hingga bisa sempurna menjadi kita.

Apa aku terlalu kompleks memaknai klik ini? Terkadang terbesit juga sih pemikiran semacam itu. Tapi, aku yakin kok ada yang sependapat denganku mengenai ini. Dan aku harap itu kamu, kamu… iya KAMU. Wkwkwk.

Someone I Miss?

Ngelanjutin tema hari keenambelas mengenai someone I miss. Masalahnya sekarang nih lagi nggak merindukan siapa pun. Jadi bingung mau cerita perihal apa. Bener banget emang masa-masa paling produktif bagi seorang penulis adalah ketika jatuh cinta dan patah hati, aku sedang tidak mengalami keduanya. Entah harus bersyukur atau bersedih karena dapat merasakan salah satu di antara keduanya terkadang membuat dunia menjadi lebih berwarna. Sekarang duniaku sedang baik-baik saja, berwarna juga tapi dengan vibe yang berbeda. Lebih diwarnai karena peran logika bukan rasa. Aku memandang sesuatu yang terjadi di sekitarku sekarang dengan lebih realistis dan logis serta minim interupsi perasaan. Temanku merasa sangat iri dengan kondisiku sekarang karena menurut dia menjalani hidup dengan meminimalkan rasa membuat hidup jauh dari drama. Kebetulan hidupnya sekarang sedang dikuasai drama cinta yang menurutku lucu juga. Tiap orang kan punya masanya sendiri dalam hidupnya, terkadang ada kondisi dimana porsi logika lebih banyak, kadang rasa yang lebih dominan dan kebetulan aku sedang di masa dikuasai logika wkwkwk.

              Apa flashback aja kali ya biar nih tulisan agak panjang dikit, kembali ke masa dimana aku pernah merindukan seseorang. Tapi males ah, orangnya udah punya keluarga wkwkwk. Apa cerita tentang keluarga? Aku lagi jauh sih dari keluarga secara geografis tapi deket secara psikis karena hampir tiap hari video call. Teknologi kan mendekatkan yang jauh dan mengintimkan yang dekat wkwkwk (adaptasi dari teknologi mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat).

              Sebenarnya kalau merindukan spesifik ‘seseorang’, aku nggak ada sih sekarang. Rindu mungkin lebih ke momennya. Banyak momen yang kurindukan tapi ya sebatas gitu aja nggak sampe kepengen banget balik ke masa itu. Aku mulai khawatir nih sama diriku sendiri yang mulai skeptis akan hal-hal berbau rasa, kenapa jadi kayak gini dah wkwkwk. Minimnya rasa ngebuat aku jadi penulis bernafas pendek, jadi nulisnya nggak bisa panjang. Padahal kemarin-kemarin gampang banget tuh nulis panjang kali lebar kali tinggi hahaha #apasih. Udah gitu aja kali ya, makin nggak jelas arah dan tujuan tulisan ini. Semoga bisa kembali menyeimbangkan antara rasa dan logika biar jadi enakeun nulisnya. Atau aku beralih aja, nulis sesuatu yang rada-rada ilmiah gitu, hm… sepertinya menarik. Mari kita coba di lain kesempatan. Selamat malam, semoga mimpi indah.

Kemana ya?

Yeay… Akhirnya megang laptop kesayanganku lagi setelah beberapa hari dianggurin. Kangen banget ngetik di keyboard laptop ini yang menurutku nyaman banget. Tuh kan repot kalau udah nyaman mah… wkwkwkwk. Malam ini niatnya mau nulis seenggaknya satu tulisan aja biar blognya nggak sepi-sepi amat. Soalnya tadi aku abis wawancara terus aku dengan bangganya memproklamirkan diri ‘I am an active blogger’, padahal kan udah lama banget vacuum nggak nulis. Jadinya sebagai sedikit pembuktian kalau aku memang an active blogger, aku mulai deh nulis tulisan ini. Tulisan ini mau aku masukin ke menu 30 days writing challenge. Iya betul sekali, ini adalah salah satu dari sekian banyak challenge yang tak mampu aku selesaikan hingga akhir. Sesulit itu membangun komitmen untuk konsisten dalam suatu challenge bagiku. Makanya sesulit itu pula membangun komitmen sama kamu tu, aku takut nggak bisa konsiten alias setia #apasih wkwkwk. Aku mau nyelesain challenge ini hingga tulisan ke-30 tetapi nggak harus maksain diri untuk tiap hari nulis, sesenggang dan sesukaku aja.

              Nah, tema hari kelimabelas mengenai if you could run away, where would you go? Pas baca teman ini hal pertama yang terlintas adalah kemana ya? Asa nggak pernah punya pemikiran buat kabur seumur umur. Anak rumahan soalnya wkwkwk. Entah kenapa dari dulu merasa betah dengan kondisi hidup yang dijalani. Pernah berkali-kali merasa berada di titik terendah dalam hidup tapi ya lagi-lagi nggak pernah ada keinginan buat kabur dari titik tersebut.

              Prinsip untuk tetap bertahan dalam suatu keadaan meski tak menguntungkan ini banyak dipengaruhi oleh pola asuh orang tua sih terutama ibu. Ibuku adalah sosok yang menurutku sangat kuat dan sosok yang selalu mengucap syukur meski kadang hidup tak mujur. Menurut beliau, bersyukur tidak hanya diucapkan ketika mendapatkan kemujuran tetapi harus di setiap kedaan. Mengucap syukur ketika mujur ya memang sudah seharusnya tetapi mengucap syukur ketika berada dalam kesempitan adalah sebuah pencapaian yang tak semua orang bisa lakukan. Oleh karena itu, kabur (run away) tak pernah menjadi pilihan bagi beliau karena penggantinya adalah syukur. Ibuku tak berpendidikan tinggi tetapi cara beliau memahami hidup sungguh sangat perlu diteladani. Aku jadi mengerti kenapa aku disekolahkan tinggi karena Allah tahu bahwa aku tak sepeka itu untuk mengambil pelajaran dari kehidupan yang ku jalani. Jadi, sekolah adalah jalan yang dipilihkan agar aku bisa sedikit mengerti tentang kehidupan. Mulai jenuh dengan kehidupan yang dijalani dan ingin kabur? Mungkin kamu bukan ingin kabur tapi hanya kurang syukur. Kabur pun, kemana ya? Wkwkwk.

Bertetangga

Tetangga merupakan salah satu dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan parameter suksesnya seseorang mengarungi kehidupan dunianya, bahkan bisa menjadi salah satu pemberat timbangan akhirat entah itu menjadi pahala atau malah menjadi pemberat dosa. Pembahasan tentang tetangga ini menjadi hal yang sangat krusial dalam agama islam hingga dimasukkan ke dalam bab adab, adab bertetangga. Sepenting apakah tetangga, bertetangga, dan adab bertetangga? Coba baca hadist di bawah ini, maka seketika kau akan mengerti bahwa kedudukan seorang tetangga bukanlah hal yang main-main di hidup ini. Rasulullah SAW pernah bersabda,

مَازَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنًّهُ سَيُوَرِّثُهٌ

“Tak henti-hentinya malaikat Jibril berpesan kepadaku tentang persoalan (berbuat baik kepada) tetangga, sampai–sampai aku menyangka ia akan memberikan hak waris kepada tetangga” (HR.Mutafaqun ‘alaih).

              Jika berbuat baik kepada tetangga menjadi hal yang sangat ditekankan maka sudah terbayang dong sebesar apa dosa yang akan diberikan kepada manusia yang dengan sengaja dan secara sadar berbuat dzalim kepada tetangganya. Aku di sini akan bercerita mengenai kedzaliman yang dilakukan seorang tetanggaku kepada tetanggaku yang lain dengan tujuan agar yang membaca tulisan ini bisa mengambil hikmah dari kisah yang baru saja aku alami. Tak ada maksud untuk menyebar dan membuka aib tetanggaku tetapi tanpa aku sebar pun mereka dengan senang hati membuka aib mereka sendiri, naudzubillah.

              Ketika kecil dulu aku tinggal di sebuah perkampungan yang lokasinya cukup padat, antara rumah yang satu dengan yang lain sangat berdekatan. Bahkan satu halaman bisa menjadi halaman juga bagi beberapa rumah lainnya. Halaman rumahku yang cukup luas juga menjadi halaman bagi dua tetanggaku yang lain. Tak ada pagar ataupun sekat tembok sehingga kehidupan bertetangga begitu dekatnya hingga terasa seperti saudara. Benar apa kata orang tua dahulu, ‘tetangga dekat lebih baik daripada saudara yang jauh’. Maka tak heran ketika ku menonton drama reply 1988, rasanya seperti melihat masa kecilku dulu yang hubungan bertetangganya sungguh dekat dan hangat.

              Sayangnya, aku sekeluarga harus pindah ke rumah baru yang sengaja dibangun oleh bapakku karena rumah yang awal itu adalah rumah kakek nenekku. Keputusan pindah ini awalnya sangat menyedihkan yang lantas menjadi hal yang sangat ku syukuri karena seiring bertambahnya usia baru ku sadari bahwa tetangga-tetanggaku yang dulu tak semuanya baik. Aku dulu hanyalah bocah naif yang kurang peka akan lingkungan sekitar dan salah kaprah karena menganggap semua orang baik. Jarak rumahku yang baru cukup dekat dari rumah yang awal tetapi lokasinya memang terpisah dari kumpulan rumah yang sebelumnya. Rumahku di pinggir jalan dan tetangganya pun tak begitu dekat karena dipisahkan oleh pagar yang dibangun hampir di setiap rumah. Aku yang anak rumahan merasa sangat diuntungkan karena males aja keluyuran ke tetangga wkwkwk. Aku mikirnya, jika memang tak bisa berbuat baik seenggaknya aku diem aja biar nggak berbuat buruk hahaha #apasih.

              Minggu kemarin aku menyambangi bekas rumahku yang dulu karena anak ‘tetangga rasa saudara’ yang sangat baik hubungannya dengan keluargaku akan melangsungkan pernikahan. Pernikahan khas desa yang semuanya dikerjakan dan dibikin sendiri sehingga keterlibatan tatangga menjadi hal yang sangat penting. Istilah jawanya itu ‘rewangan atau ngerewang’. Aku mengerjakan hal-hal yang bisa ku kerjakan, mulai dari ngupas batok kelapa, ngelipet kotak kue, ngupas, motong kue untuk para undangan, dan pekerjaan remeh lainnya. Keahlian yang membuatku mendapatkan banyak pujian adalah ngupas kelapa dari batok kelapa, banyak yang terkaget kaget dan terheran-heran karena aku bisa dengan mudahnya mengupas batok kelapa yang keras itu dengan kelapa yang tetap bulat. Nggak nyangka aja katanya karena nggak kewajahan aja, dari wajahnya kayak nggak bisa kerja kasar wkwkwk. Makanya jangan suka nge-judge a book from its cover hahaha.

              Usut punya usut ternyata tetanggaku yang baik ini (sebut saja A) tidak disukai oleh tetangga di sekitar rumahnya. Padahal salah satu tetangga di dekat rumah A adalah saudaranya sendiri. Hubungan yang tidak baik ini dilatarbelakangi permasalahan sengketa tanah, which is ini adalah permasalahan lumrah yang banyak terjadi di daerahku. Rusak hubungan persaudaraan karena tanah warisan, eh apa di daerah lain juga yak? Wkwkwk. Fyi, alasan lain yang membuatku mensyukuri kepindahanku adalah karena tetangga-tetanggaku (selain A) orangnya pada usil dan dzalim. Mereka suka melakukan hal yang sangat di luar nalar orang normal, menunjukkan dengan terang-terangan ketika tidak suka dengan pencapaian yang dimiliki tetangganya yang lain. Kedzaliman mereka sangat tempak ketika si A mengadakan hajatan dan apa yang mereka lakukan sungguh keterlaluan dan nggak bakalan dilakukan oleh orang normal yang menggunakan akal dan pikiran.

              H-2 menuju hajatan pernikahan, kesibukan di rumah A mulai terlihat dan tampak nyata. Terpantau dari mulai banyaknya orang-orang yang mondar mandir ke sana kemari, mulai dari memasak hingga memasang tenda hajatan. Rumah tetangga terdekat dari A justru merupakan tetangga yang menaruh rasa iri dengki pada si A sehingga mereka tidak ada yang hadir untuk ikut ‘ngerewang’ membantu hajatan si A. Padahal si A sudah menyambangi rumah mereka untuk mengundang tapi mereka tak berkenan untuk datang. Tak masalah jika tak ingin membantu tapi yang mereka lakukan tidak cukup sampai di situ. Mereka berkomplot menghidupkan speaker yang sangat keras hingga mengalahkan speaker yang ada di rumah si A. Orang-orang yang tak tau akan mengira tetangga si A lah yang sedang hajatan karena suara speaker hajatannya sangat keras. Bahkan si A memutuskan untuk mematikan speaker sound system yang ada di rumahnya karena merasa cukup dengan suara speaker yang dinyalakan tetangganya. Mereka menghidupkan speaker tersebut bahkan hingga jam 2.00 dini hari. Aku yang berada di sana merasa kesal bukan main dan merasa harga diri si A diinjak habis-habisan. Aku ingin sekali mengambil pisau atau gunting untuk memotong kabel sound system mereka karena ini sungguh tak bisa dibenarkan.

              Malam harinya kakakku dan aku mengobrol dengan si A yang sudah kami anggap paman sendiri, menyampaikan kekesalan dan keresahan yang kami rasakan akan perbuatan para tetangga yang dzalim itu. Percakapan kami mulai dengan pertanyaan, kira-kira ada masalah apa antara si A dan para tetangga dzalim hingga mereka menunjukkan kedzaliman mereka begitu terang-terangan. Si A malah bingung juga karena sebelumnya tak ada konflik yang terjadi tetapi memang hubungan mereka tak terlalu harmonis. Usut punya usut ternyata si A hanya punya konflik dengan tetangga yang masih saudaranya perihal tanah warisan yang tadi aku ceritakan, tetapi tetangga yang lain malah ikut-ikutan yang mana itu nggak ada hubungannya sama mereka. Para tetangga yang ikut-ikutan ini memang terkenal nggak jelas dan senang sekali membuat huru hara dan mendukung hal-hal yang bersifat keburukan.

              Ada pernyataan A yang membuatku seketika tertampar dan malu bukan main karena sempat ingin membalas keburukan dengan keburukan pula. Katanya begini,

“nggak habis fikir saya sama mereka ini, nggak masalah kalau benci banget sama saya, sama sekali nggak masalah.Tapi kok ya mereka nggak malu setidaknya sama diri mereka sendiri karena melakukan kedzaliman dengan begitu terang-terangan. Apa nggak malu sama DIRI MEREKA SENDIRI” ucapnya sangat bijak.

              Aku yang mendengarnya terkesiap dan tertegun untuk sesaat, darimana kiranya rasa sabar seperti itu beliau dapatkan. Usia memang tak pernah bohong, aku merasa masih sangat jauh dari rasa sabar. Rasanya pengen meledak-ledak aja kalau melihat kedzaliman. Entah perjalanan hidup seperti apa yang telah beliau lalui hingga bisa sesabar itu.

              Ketika hari H hajatan, mereka makin menjadi-jadi. Memutar speaker sound system dengan sangat keras dan memutar lagu dangdut. Bahkan ketika acara hajatan dimulai dan pembacaan ayat al-Quran dilantunkan, malah bersamaan dengan lagu dangdut yang dinyanyikan biduan. Semua orang yang ada di lokasi hajatan hanya bisa geleng-geleng kepala dan tak habis fikir dengan perbuatan mereka. Padahal Allah menutup aib mereka tetapi mereka malah dengan bangganya membuka aib mereka sendiri. Ya Allah jauhkanlah hamba dari tetangga iri, dengki, dan dzalim macam ini. Tak lupa pula jauhkan hamba dari mempunya sifat yang demikian karena bisa jadi hamba dijauhkan dari tetangga tetangga iri, dengki, dan dzalim macam ini karena hambalah yang menjadi pelakunya #naudzubillah.

              Hidup bertetangga menjadi hal yang bisa mengantarkan kita ke surga atau neraka tergantung perilaku yang kita lakukan di dunia ketika berhubungan dengan para tetangga kita. Bertetangga dengan orang baik merupakan sebuah rezeki yang perlu diyukuri karena tak semua orang mendapatkannya. Aku selalu membayangkan mempunyai tetangga seperti teman-temanku di kosan rambutan karena mereka sungguh baik, sholehah, dan begitu pengertian. Setelah berpisah dengan mereka aku baru menyadari bertemu dan sempat tinggal dengan mereka adalah sebuah rezeki yang sangat perlu sekali disyukuri. Mari bersama-sama introspeksi diri dan senantiasa menuju perbaikan diri agar bisa berbuat baik pada orang lain terutama tetangga kita sendiri.

My Style?

Tema hari keempatbelas yang ku tulis pada hari kedelapanbelas mengenai describe your style. Udah kacau banget sih jadwal nulisnya, berasa padet banget dan sibuk aja gitu, padahal aslinya mah ‘sibuk nggak ngapa-ngapain’ wkwkwkwk. Deskripsikan gaya di sini aku mikirnya lebih ke cara berpakaian, Iya nggak sih? Aku sih nangkepnya gitu. Hm… my style dari dulu tuh nggak pernah up to date karena memang orangnya nggak suka ngikutin gaya yang lagi in (hits) di masa itu. Ada beberapa alasan kenapa nggak ikutan gaya yang lagi in, pertama nggak rela aja investasi di barang-barang yang sebenarnya menyenangkan mata orang sedangkan akunya biasa aja. Kedua, terkadang style yang lagi in kebanyakan nggak cocok di badan aku. Ketiga, aku pemalasnya bukan main apalagi di bidang yang emang aku nggak passion, jadi ngapain maksain diri. Terkadang kagum aja sih sama orang-orang yang bisa mix and match gaya dengan begitu elegannya karena aku tau itu semua butuh effort yang nggak sedikit, mulai dari biaya, tenaga, hingga waktu tentunya. Ketidak tertarikanku pada gaya terkini dikarenakan aku tidak terlalu menaruh perhatian pada hal-hal mendetail. Contoh kecilnya, mengecat kuku pake kutek, ini hal yang lumrah dilakukan oleh para perempuan yang sangat detail memperhatikan penampilan. Sedangkan aku? Belum menemukan alasan kuat kenapa aku harus melakukannya wkwkwk.

            Gaya berpakaianku ya biasa aja, ya nggak gembel-gembel amat juga. Aku juga sesekali membeli baju yang cukup mengeluarkan budget untuk orang dengan dompet seadanya sepertiku. Bagiku udah cukup mahal tapi mungkin murah bagi orang lain. Jenis pakaian yang sudah tak aku sentuh lagi sejak lulus SMA adalah celana jeans karena ngerasa kurang nyaman aja pas makenya, berasa press badan banget. Aku suka baju yang longgar karena ngerasa sesak aja kalau baju yang pas badan banget. Sudah memakai gamis sejak lulus SMA karena masuk IPB (Institut Pesantren Bogor) wkwkwk #candasayang. Suka aja pake gamis soalnya nyucinya cuma satu potong aja. Nggak terlalu suka pake celana karena berasa gemuk wkwkwk. Jadinya kemana mana pake rok, bahkan ketika main badminton hahaha. Tapi sekarang udah pake celana sih soalnya pake kaosnya dua lapis, satu panjang sampe lutut dan satunya agak pendek.

Dari dulu emang agak pemilih soal baju jadinya suka luaaaammaaaa banget kalau beli baju. Hal ini juga berdampak pada bajuku yang tak terlalu banyak. Baru menemukan style kerudung yang enakeun ketika bikin brand kerudung sendiri, namanya Honje (ig: @honje_id). Brand gamis yang paling disuka karena ukurannya pas banget di badan adalah zizara (ig: @zizara_). Berasa zizara tuh emang spesial dibuat untukku wkwkwk. Tujuan naruh ini di sini biar orang kalau mau ngasih kado nggak bingung, jadinya zizara aja ukuran M, wkwkwk #candasayang. Udah gitu aja sih soalnya emang nggak terlalu banyak yang bisa diceritain mengenai my style yang memang biasa aja.

Menatap Punggung Muhammad

Tema hari ketigabelas mengenai favourite book. Buku yang sampai saat ini masih aku ingat meski telah ku baca 7 – 8 tahun lalu adalah buku dengan judul Menatap Punggung Muhammad. Detail ceritanya tidak terlalu aku ingat tetapi reaksi yang aku keluarkan ketika membaca buku inilah yang masih aku ingat dengan jelas. Kala itu aku membaca buku ini di kamar kostku di Bogor, kamar yang cukup gelap dan sunyi karena aku suka suasana ini ketika sedang membaca. Tanpa aba-aba aku mengeluarkan air mata yang entah dari mana, menangis sejadi-jadinya hingga sesenggukan tak bisa dihindarkan. Ada rasa kosong yang tiba-tiba muncul, rasa yang mirip ketika kita merindukan seseorang dengan sangat mendalam tetapi pada saat yang bersamaan merasa tak bisa bertemu karena sosok tersebut akan pergi jauh. Pergi ke suatu tempat yang sangat jauh, akhirat. Untaian kalimat dalam buku ini membuatku benar-benar meresapi isi buku ini hingga bereaksi menangis tak terkendali. Mungkin buku ini ditulis dari hati hingga sampai di hati tanpa perlu permisi.

              Buku ini menceritakan seorang sosok bernama ‘Aku’ yang bermimpi bertemu dengan sosok yang sangat mempesona hingga dia tak bisa untuk melupakannya, sosok yang hanya dengan menatap punggungnya bisa membuatnya bahagia karena campur aduknya rasa yang dia rasa. Mulai dari sayang, cinta, rindu, haru, dan rasa lain yang sulit untuk diungkapkan. Pemilik punggung itu adalah sosok manusia luar biasa agung dan mulia yang sampai kapan pun tak akan pernah ada tandingannya. Iya, punggung itu milik Nabi Muhammad, sang Aku Menatap Punggung Muhammad.

              Buku ini sebenarnya bentuk sirah nabi Muhammad yang dikemas dengan cara unik dan tidak biasa. Dikemas dalam sebuah kisah pertemuan seorang Aku dengan Nabi Muhammad dalam mimpinya. Sosok ‘Aku’ di sini tidak beragama islam sehingga tidak mengenal sosok Nabi. Setelah kejadian mimpi tersebut, dia memutuskan untuk mencari lebih dalam siapa sebenarnya sosok yang ada di mimpinya tersebut. Nah di sinilah uniknya, membuat kita mengenal sosok Nabi tetapi dengan cara mengemasnya ke dalam kisah sehingga pembaca (terutama aku) menjadi mudah untuk menerimanya. Seperti baca novel, buku sejarah, dan buku keagamaan pada saat yang bersamaan. Biasanya aku akan sangat mudah sekali ngantuk ketika membaca buku yang di dalamnya ada ayat-ayat Al-Quran karena bahasanya akan sangat serius. Tetapi buku ini berbeda, bahasanya khas novel sehingga membuat pembaca betah membaca buku ini hingga akhir. Ketika membaca buku ini ada bagian yang membuatku menangis kejer, rasanya rinduuuuu banget sama baginda Nabi Muhammad. Oleh karena itu, aku rekomendasiin banget buku ini buat kalian baca. Menambah pengetahuan sirah Nabi Muhammad dan kecintaan pada beliau pada saat yang bersamaan.

Aku sedang berusaha untuk mengubah mindset dalam diri agar bisa tahan membaca buku sejenis sirah, tafsir, fiqih, dan sejanisnya yang selama ini hanya jadi pajangan aja karena membuka sampulnya aja bikin nguap wkwkwkw. Jahiliyah emang. Cara konkret yang aku lakukan adalah dengan meresume ceramah ustadz di youtube dan meresume buku bacaan mengenai akidah, tafsir, fiqih, atau sejenisnya sehingga aku akan lebih cepat familiar dengan tulisan yang di dalamnya terdapat ayat Al-Quran. Buat yang pengen baca tulisan ‘seriusku’ bisa langsung aja ke ke menu di blog ini ya. Lah… kok jadi promosi tulisan sendiri wkwkwk.

Tafsir Surat Adh-Dhuhaa

(Adh-duhaa: Cahaya Pagi, Makkiyah, 11 Ayat, surat ke-93)

Sumber               : Youtube ceramah Ust. Abdul Somad

Link                      : https://youtu.be/3jCmggYS7do

Membaca Al-Quran dimulai dengan membaca taadwudz (أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ – audzubillahiminasyaithonirrojim) dengan tujuan meminta perlindungan kepada Allah dari goodan setan agar ketika membaca al-Quran dilindungi dari bisikan setan yang mungkin akan membisikkan agar manusia menafsirkan atau menakwilkan Al-Quran dengan arti yang tidak seharusnya. Barangsiapa secara sengaja menafsirkan Al-Quran dengan tafsir yang tidak seharusnya (mengikuti hawa nafsunya), maka Allah mempersiapkan tempat duduk baginya dari api neraka (Naudzubillah). Selanjutnya diikuti dengan basmalah (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم – bismillahirrohmanirrohim). Hukum basmalah ada tiga berdasarkan kesepakatan ulama, sebagai berikut,

  1. Bukan bagian dari surat (sehingga basmalah tidak diberi nomor ayat) –> mazhab Maliki
  2. Bagian dari surat (surat An-Naml:30) –> mazhab: Syafii (dikeraskan -jahar-), Hanafi dan Hambali (dibisikkan -tsir-)
  3. Ikhtilat (50:50)

Penamaan surat dalam Al-Quran ada yang tersurat di dalam suratnya dan ada juga yang tidak tersurat. Contohnya, surat Al-fatihah (pembuka) tidak terdapat dalam surat tetapi sifatnya memang pembuka ayat, sedangkan surat adh-dhuhaa ada di suratnya (tersurat).

وَٱلضُّحَىٰ

  1. Demi waktu matahari sepenggalah naik (demi waktu dhuhaa),

Wa dalam Wadduha’ adalah sumpah untuk menekankan atau menegaskan akan pentingnya kalimat setelah sumpah tersebut. Manusia hanya boleh bersumpah atas nama Allah dan tidak boleh atas nama yang lain karena syirik (membesarkan sesuatu selain Allah). Sedangkan Allah bersumpah atas nama makhluknya untuk menunjukkan kebesarannya. Demi waktu, Allah bersumpah atas nama waktu, hal menunjukkan bahwa waktu adalah sesuatu yang besar dan sangat penting. Demi waktu sepenggalah naik (waktu dhuha). Waktu dhuha adalah waktu ketika memasuki syuruk ditambah 12 menit sampai 15 menit sebelum adzan dzuhur. Tentunya waktu syuruk tiap daerah berbeda-beda. Cara mengetahui waktu syuruk bisa dilihat di kalender yang terdapat waktu sholat, apabila waktu syuruk adalah jam 6.20, maka waktu dhuha dimulai di jam 06.32 sampai 15 menit sebelum adzan dzuhur. Sholat yang dilaksanakan ketika waktu dhuha ada tiga jenis yaitu sholat dhuha di awal dinamakan ishrok, pertengahan dinamakan dhuha, dan ketika matahari telah naik dinmakan sholat awwabin. Ketiganya dikategorikan sebagai sholat dhuha.

وَٱلَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ

  1. Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap),

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

  1. Tuhanmu tidak meninggalkan kau dan tidak pula membencimu.

Asbabun nuzul turunnya ayat ini adalah karena wahyu lama tidak turun, maka nabi tidak bicara. Kemudian datanglah seorang perempuan bernama Ummu Jamil, istri dari abu Uzza (nama lainnya Abu Lahab). Perempuan ini mengejek Nabi Muhammad dengan berkata ‘Muhammad, setanmu sudah meninggalkanmu’. Lalu datanglah Khawla, memasukkan batang sapu ke bawah tempat tidur yang ternyata di sana ada bangkai anak anjing. Pertanyaannya, kenapa bisa bangkai anak anjing tidak bau? Karena kelembaban di Saudi Arabia sangat rendah sehingga bangkai hewan tidak berbau karena daerahnya berupa gurun pasir yang kering dan panas. Ketika anak anjing tersebut dibuang, barulah datang malaikat Jibril as. untuk menyampaikan Kembali wahyu kepada nabi Muhammad saw. Kenapa Jibril lama tidak datang? Penyebabnya adalah karena adanya bangkai anak anjing tersebut. Itulah dalil kenapa rumah yang ada patung berhala dan anjing tidak dimasuki malaikat yang membawa rahmat, membawa wahyu, dan malaikat yang membawa barokah.

Ketika Mujahid membaca ayat ini maka beliau membaca takbir, hal ini karena disuruhh oleh gurunya yang bernama Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Abbas disuruh gurunya yang bernama Ubai bin Kaab (sahabat Nabi). Ubai bin Kaab disuruh oleh nabi untuk bertakbir. Pembacaan takbir ini dikarenakan perasaan suka cita kerena mendengar kabar gembira dari Allah setelah sekian lama wahyu yang tidak datang akhirnya datang. Allau Akbar (Allah maha besar) dimana sekarang secara teknis diperpanjang menjadi Allahu akbar, laailaha illallahuallahukabar walillahilhamd. Bacaan ini biasanya dibaca ketika khataman Al-Quran dan sudah mencapai surat Ad-dhuha, dibaca sebelum basmalah. Pembahasan tentang ini bisa dibaca di dalam kitab tafsir Al-Quraniladzim ditulis oleh Abu Fida Al-Ismail Ibnu Katsir.

Korelasi ayat ketiga ini dengan ayat sebelumnya (ayat 1 dan 2) adalah, apabila nabi merasa ditinggalkan, dikucilkan, dan disepikan maka ingatlah bahwa Allah maha besar. Jika mengendalikan alam semesta dan waktu saja adalah hal yang mudah, maka perihal menurunkan wahyu adalah hal yang mudah dan sepele bagi Allah. Sebenarnya turun atau tidak turunnya wahyu sama sekali tidak mengurangi atau menggoyahkan iman Nabi Muhammad saw. tetapi hal ini (jika wahyu turun) bertujuan untuk menenangkan orang-orang di sekitar Nabi yang tentunya imannya tidak sekuat Nabi Muhammad saw.

وَلَلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ ٱلْأُولَىٰ

  1. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).

Dunia tidak bisa dibandingkan dengan akhirat karena perbandingannya sangat jauh. Dunia diibaratkan setetes air yang jatuh ketika telunjuk kita dicelupkan ke dalam air di lautan. Setetes air yang jatuh dari telunjuk itulah yang diibaratkan sebagai dumia dan sisa air di lautan tersebut adalah akhirat. Maka janganlah bersedih hati ketika tidak mendapatkan dunia. Bukan berarti kita diminta untuk meninggalkan dan tidak memperdulikan dunia tetapi jadikan dunia hanya sebagai bekal dan wasilah (sarana) untuk menuju akhirat. Apabila akhirat telah tertanam dalam diri maka balasan dari Allah adalah ayat selanjutnya, yaitu

وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰٓ

  1. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas

‘walasaufa (kelak)’ artinya hal ini butuh proses, ‘yuktiika’ menggunakan fiil mudhorik yang bersifat berkesinambungan (continuous), ‘fatardho’ apapun yang kau mau akan Ku berikan. Sesuatu akan menjadi kenyataan ketika keinginan kita sama dengan keinginan Allah. Oleh karena itu satukan keinginan kita dengan keinginan Allah agar menjadi kenyataan. Surat Ad-Dhuhaa mengingatkan kita akan pertolongan Allah yang nyata tetapi kita perlu mengisi keyakinan kita agar senantiasa berorientasi pada akhirat, sehingga Allah akan memberikan apa pun yang kita mau. Buktinya dalam kehidupan Nabi Muhammad terdapat pada ayat selanjutnya,

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَـَٔاوَىٰ

  1. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?

Ketika kecil Nabi Muhammad yatim kemudian Allah melindungi beliau.

وَوَجَدَكَ ضَآلًّا فَهَدَىٰ

  1. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.

Terdapat beberapa takwil makna dari ayat ini, pertama Nabi Muhammad saw. berada di antara orang-orang yang sesat kemudian Allah memberikan beliau petunjuk. Kedua, nabi Muhammad pernah tidak menemukan jalan pulang ketika membawa barang dagangannya (tersesat) kemudian Allah menunjukkan jalan pulang ke Mekkah.

وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ

  1. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.

Allah mendapatimu dalam keadaan miskin, sebab orangtuamu tidak meninggalkan harta warisan, kecuali seekor unta dan seorang budak perempuan. Kemudian allah membuatmu menjadi kaya melalui perniagaan yang memperoleh banyak laba dan hadiah yang kau terima dari Khadijah (tafsir ini berdasarkan buku Tafsir Al-Fatihah dan Juz’Amma yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M. Ag.). Allah kemudian mencukupkan Nabi Muhammad saw. dengan harta setelah sebelumnya mengalami kekurangan dan tidak punya apa-apa karena terlahir yatim.

فَأَمَّا ٱلْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ

  1. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.

Ayat ini adalah jawaban terhadap ayat ke-6. Dulu Nabi Muhammad merupakan anak yatim yang kemudian dicukupkan oleh Allah dengan dunia. Oleh karena itu, jika ada anak yatim datang kepadamu maka janganlah berlaku sewenang-wenang terhadap mereka. Nabi Muhammad diperintahkan untuk berbuat baik kepada anak yatim karena beliau dulu juga merupakan anak yatim.

وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنْهَرْ

  1. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.

Ayat ini adalah jawaban terhadap ayat ke-7. Pada masanya ada orang yang bertanya tentang kebenaran atau meminta-minta maka janganlah engkau (Muhammad) mengusir dan membentak mereka. Karena dulu engkau juga adalah manusia yang pernah tersesat dan Allah memberikan petunjuk padamu.

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

  1. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.

Ayat ini adalah jawaban dari ayat ke-8. Allah telah mencukupkan dunia bagimu maka berbagilah dengan orang lain yang membutuhkan.

Sangat sistematis Allah menyusun setiap ayat dalam Al-Quran. Begitu benarnya firman Allah, maka setelah membaca firman Allah tersebut kita mengucapkan ‘shodaqollahuladzim (maha benar Allah dengan segala firmannya)’.

Unforgettable Princess Hours

Tema hari keduabelas mengenai favourite tv series. Sempet menimbang nimbang series apa yang mau aku ceritakan di sini. Series yang ku maksud di sini adalah drama korea (drakor) tentunya. Entah sudah berapa banyak drakor yang sudah aku tonton hingga detik ini. Aku sempat menjabat sebagai distributor drakor on going ketika S1 dulu. Melelahkan tetapi menyenangkan pada saat yang sama. Menjadi orang ter-update mengenai drakor membuatku semakin bersemangat aja menjalani profesi sampinganku ini wkwkwk. Gimana ya, sebagai tim anti spoiler, puas aja rasanya gitu menjadi jajaran orang pertama yang tahu jalan cerita drakor yang lagi hits tanpa terpapar cerita orang – orang. Drakor pertama yang membuatku jatuh cinta adalah princess hours. Drama ini pertama kali ku tonton di tv setiap hari minggu dan masih teringat jelas musik pembukanya kalau udah waktunya nih drama tayang, bikin hari itu cerah dan ceria wkwkwk. Bayangkan aja aku harus menunggu satu episode tiap minggunya karena kala itu drakor dan internet belum se-massive sekarang.

              Drama princess hours menceritakan seorang gadis biasa (panggil saja Shin Chae Kyong -SCK) yang terkesan tidak punya kelebihan apa-apa tiba-tiba bisa menikah dengan seorang pangeran mahkota (pangeran Shin) kerajaan korea. Pernikahan ini bisa terjadi karena kakek SCK bersahabat dengan kakek pangeran Shin dan mereka berwasiat untuk menjodohkan cucu mereka, ya SCK dan pangeran Shin ini. Mainstream dan nggak masuk akal sih ceritanya tapi eksekusinya bagus banget mereka tu, seniat itu kalau bikin drama. Jalan cerita yang terkesan sangat fiktif menjadi sangat berkualitas karena dieksekusi dengan seprofesional itu. Ini sih kelebihan dunia hiburan korea terutama dramanya dibandingkan sinetron di Indonesia. Nggak etis sih ngebanding-bandingin soalnya emang nggak sebanding banget mereke tuh wkwkwk.

              Pangeran Shin sebenarnya telah mempunyai seorang kekasih yang sangat dia cintai, bernama Hyorin. Saking sukanya nih pangeran Shin sampe ngajakin si Hyorin nikah tapi ditolak sama Hyorin karena dia mau mengejar cita-citanya sebagai balrina profesional. Oya mereka semua ini satu sekolah bedanya pangeran Shin dan Hyorin adalah kelompong geng elit sedangkan SCK dan teman-temannya geng melarat. Singkat cerita akhirnya SCK dan pangeran Shin menikah, di sinilah cerita mereka dimulai. Pangeran Shin yang awalnya sama sekali tidak menyukai SCK, sedikit demi sedikit mulai menaruh perhatian dan jadi suka banget lho. Bener ternyata apa kata pribahasa, ‘witting tresno jalaran soko kulino’ yang artinya cinta itu bisa datang karena sering bersama (iya nggak sih wkwkwk).

              Aku suka banget sama drama ini sampai-sampai dulu aku bela-belain nyewa CD ke kota yang isinya nih drama. Bolak balik karena karena ternyata satu episode itu disimpen di 1 CD, sedangkan ini drama ada 24 episode. Satu kali minjem hanya mampu nyewa 2 CD jadi perlu bolak balik 12 kali OOOYYY. Ajigile perjuanganku nggak main-main lho. Lebih herannya lagi, aku nggak cuma nonton sekali lho, pas udah selesai aku minjem lagi dong buat ngulang nontonnya dari awal. Bener-bener dah. Bahkan ketika internet udah agak lumrah, aku pernah mengulang menonton nih drama tetapi aku skip di bagian-bagian yang aku ingin tonton aja. Soalnya banyak bagian yang tidak ingin aku tonton seperti perpolitikan istana dan scene golongan tua gitu wkwkw. Aku bahkan hafal setiap adegan dan isi percakapan di adegan tersebut. Benar-benar Unforgettable Princess Hours tapi kalau diingat-ingat sekarang kok bisa ya aku sampe segitunya suka sama drakor itu padahal ya biasa aja sebenarnya. Ternyata untuk menjadi biasa hanya butuh waktu saja, sama seperti rasa sukaku padanya. Sekarang sudah hilang tak berbekas padahal dulu menancap kuat seakan akan tak akan tercabut dan hilang tanpa bekas.